• Membangun Generasi Qurani, Menggapai Ridho Illahi

    Secarik Syair Sayyid Quthb




    Secarik Syair Sayyid Quthb


    Bukan berarti, ketika sorak-sorai khalayak itu kau terima, bahagia sebenar kau rasa. Sebab sejatinya, tidak ada bahagia tanpa menjadikan jiwa kita semakin bererat dekap dalam taat. Menghamba setulusnya pada Penggenggam jiwa. Memang benar, atau ini hanya pembelaan untuk kekhilafan bahwa manusia tempatnya salah dan lupa. Seakan melegitimasi kesalahan dan memaklumi kelupaan. Maka sesekali menyesali perbuatan di ujung malam sebelum katup mata saling padu dalam tidur menjadi hal yang patut dibiasakan. Sebagaimana para sahabat menghisab diri setelah sehari berlalu-lalang dalam berkegiatan.
    **********
    Ada ungkapan dari seorang Sayyid Quthb yang begitu menggetarkan dan kemudian membuat saya menarik kesimpulan “Pantas saja ia diburu fitnah, bolak-balik ke penjara bahkan menerima hukuman mati tak jadi persoalan”. Dan inilah yang ia ungkapkan : Jari telunjuk yang setiap hari memberi kesaksian tauhid kepada Allah saat shalat, menolak menulis satu kata pengakuan untuk penguasa tiran. Jika saya dipenjara karena kebenaran, saya rela dengan hukuman kebenaran. Jika saya dipenjara dengan kebatilan, pantang bagi saya minta belas kasih kepada kebatilan”. Masyaallah! Allahu yarhamhu. 
    Sayyid Quthb adalah sastrawan yang syahid mempertahankan kebenaran. Bekerja di bidang jurnalistik sejak muda dan aktif menulis makalah di berbagai surat kabar di Mesir seperti Al Ahram, Ar Risalah, dan Ats Taqafah. Bahkan di tahun 1953 memimpin surat kabar pekanan Ikhwanul Muslimin. Ketajaman pena ia goreskan untuk memerangi berbagai kerusakan dan penyimpangan di kehidupan sosial, politik, dan ekonomi. Ia mencapai puncak karir dalam kritik sastra yang khas dengan paduan syahdu antara seni dengan sejarah bahasa dan psikologi.
    Pada tahun 1947, Sayyid Quthb berubah haluan dari sastra menuju Islam dan menjadi tokoh Islam kontemporer. Pernah dengar Tafsir Fi Zhilalil Qur’an? Itulah salah satu karya monumentalnya. Hal menarik lainnya dari seorang Sayyid Quthb adalah tentang sikap tegas dan kokoh mempertahankan ketauhidannya dalam tulisan dan berbagai karyanya. Ia tidak mengeluarkan vonis keagamaan terhadap orang lain dan tidak mengkafirkan masyarakat. Tahu kenapa? Ini yang ia ungkapkan, “Tugas kita bukan menetapkan vonis terhadap orang lain. Tugas kita adalah mengenalkan kepada mereka hakikat laa ilaaha illallah, karena mereka tidak tahu konsekuensi esensial dari syahadat ini”.
    Di antara yang membuat saya tertantang untuk membaca tentang Sayyid Quthb adalah karena menurut kabar burung, beliau punya banyak musuh. Musuh Islam. Beliau adalah salah seorang tokoh yang diperhitungkan ketajaman pikiran dan pergerakannya oleh musuh-musuh Islam. Termasuk tokoh revolusi Mesir Abdun Nashir yang merupakan pemimpin zalim, penguasa tunggal yang menerapkan pemerintahan diktator. Di pemerintahan Abdun Nashir itulah pertama kali Sayyid Quthb dipenjara pada tahun 1954. Dan di bawah kepemimpinan Abdun Nashir itu juga, Sayyid Quthb dijatuhi hukuman mati atas tuduhan upaya pembunuhan terhadapnya dan penggulingan pemerintahannya. Tanggal 9 Agustus 1965, Sayyid Quthb kembali dipenjara atas fitnah tersebut. Pelaksanaan hukuman mati terhadap Sayyid Quthb dilakukan sebelum terbit fajar pada hari Senin, 29 Agustus 1966 setelah melalui pengadilan yang diketuai oleh Fuad Ad Dajwi.
    Abdullah Al ‘Aqil menuturkan bahwa hukuman mati terhadap Sayyid Quthb merupakan tragedi yang menyakitkan, mengguncang dunia Arab, menyulut kemarahan ulama, da’i dan masyarakat Islam. Pada saat yang sama, hal itu menyejukan bagi musuh-musuh Islam. Kaum muslimin mengecam keras ketidakadilan pemerintahan Abdun Nashir, melakukan shalat gaib di penjuru timur dan barat, surat kabar Islam menampilkan edisi khusus tentang Asy Syahid Sayyid Quthb.
    Para tiran mengira dengan memenjara dan membunuh dai berarti berhasil menumpas Islam. Tapi itu adalah pemikiran keliru, salah besar. Terbukti dengan karya-karya Sayyid Quthb yang semakin dikenal berbagai penjuru dunia, sebagian besar bukunya dicetak lebih dari dua puluh lima penerbit, dan diterjemahkan ke berbagai bahasa sehingga kita bisa mengenal karya-karya luar biasa darinya.
    Saya akhiri keharuan ini dengan syair Akhi yang ditulis Sayyid Quthb dari balik jeruji besi, ini menjadi satu mata air syair Islam yang menggambarkan denyut jantungnya.
    Saudaraku, engkau merdeka, meski berada di balik jeruji penjara.
    Saudaraku, engkau merdeka meski diborgol dan dibelenggu bila engkau pada Allah berpegang teguh. Maka tipu daya musuh tidak membahayakanmu.
    Wahai saudaraku, pasukan kegelapan akan binasa.
    Dan fajar baru akan menyingsing di alam semesta.
    Lepaskan kerinduan jiwamu.
    Engkau akan melihat fajar dari jauh telah bersinar.
    Saudaraku, engkau jangan jenuh berjuang
    Engkau lemparkan senjata dari kedua pundakmu.
    Siapakah yang akan mengobati luka-luka para korban
    Dan meninggikan kembali panji-panji jihad?”
    Disarikan dari Abdullah Al ‘Aqil dalam Min A’lami Al Harokah wa Ad Da’wah Al Islamiyah Al Mu’ashirah (Mereka yang Telah Pergi : Tokoh Pembangun dan Pergerakan Islam Kontemporer)

    0 komentar:

    Posting Komentar

     

    Total Tayangan Halaman

    Followers

    Kegiatan

    - TPA (Taman Pendidikan Al-Quran), - PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), - Tahsin Rumah Iqro - RIB (Rumah Iqro Berbagi) - RIM (Rumah Iqro Mandiri) - PKA (Program Kakak Asuh

    Tentang Kami

    Yayasan Rumah Iqro Insani terbentuk dari kumpulan pemuda yang peduli akan keadaan lingkungan. Berawal dari sebuah kegiatan pembinaan kepemudaan hingga terbentuknya Yayasan ini. Bervisi "Terbentuknya Masyarakat Yang Peduli, Cerdas dan Mandiri".

    Sekertariat

    Jl Lontar No 2 RT 04 RW 010. Kelurahan Tanah Baru. Kecamatan Beji. Kota Depok. 16426. Tlp 0896-2543-3403